Wanita cantik tinggi besar, berkulit putih kemerahan, berhidung mancung, bermata biru dan berambut pirang itu tampak berseri-seri begitu menginjakkan kaki di bandara Ngurah Rai. Kelelahan tampak di wajahnya, tapi seolah tidak dirasakannya meski habis menempuh jarak ribuan kilometer. Yah…. akhirnya mimpinya untuk mengunjungi Pulau Dewata ini kesampaian juga. Sudah begitu lama keinginan itu dia pendam, sekarang tibalah saatnya.
Wanita itu bernama Anne, warganegara Australia. Di sela-sela kesibukannya, dia menjadwalkan berlibur ke Bali sejak 2 tahun lalu. Sebenarnya tahun kemarin dia berniat berangkat. Namun ledakan bom di sebuah caf? di Bali membuatnya menunda rencananya. Sekarang dia benar-benar ada di sini. Tidak, dia tidak takut akan terjadi ledakan bom lagi, dia percaya Bali sekarang benar-benar sudah aman. Dan sudah pulih. So… it’s time to enjoy life.
Bersama beberapa rekannya, Anne datang ke Bali, untuk menikmati keindahan sunset, keindahan pantai Kuta, kehangatan cuaca di Bali juga keunikan budaya lokal masyarakat Bali. Mereka berniat menghabiskan seminggu dari masa liburnya di sini.
Memang, kalau kita amati, persentase wisatawan yang berasal dari Australia termasuk tiga besar, disamping Jepang dan Taiwan, dan ada kecenderungan jumlah mereka semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan perkembangan yang menggembirakan.
Bulan Juli, Agustus dan September selalu merupakan peak season kunjungan wisatawan asing ke Bali karena pada bulan-bulan tersebut sebagian besar wisatawan asing tersebut menjalani masa liburan musim dingin.
Selama Januari sampai dengan Agustus 2002 jumlah wisatawan terbanyak berasal dari Jepang mencapai 217.884 orang (22,72%), diikuti Taiwan dan Australia masing-masing sebanyak 136.055 orang (14,19%) dan 123.286 orang (12,85%).
Ledakan bom di Sari Klub beberapa waktu lalu memang menyisakan kepedihan bagi sebagian orang, baik yang secara langsung mengalami sendiri ataupun yang memiliki hubungan dengan korban, namun tidak menyusutkan minat sebagian wisatawan lain yang memang memendam keinginan untuk mengunjungi Pulau Dewata ini. Akankah kondisi ini terus berlanjut? Selama kita mampu menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kita memang aman, sepertinya bukan merupakan angan-angan kosong.
(admin)
Kamis, 28 April 2011
PARIWISATA BALI : TETAP OPTIMIS, MESKI SEMPAT KRITIS
Gaya Hidup Orang Bali, Perpaduan Budaya Barat dan Timur
Upacara Melasti, upacara penyucian benda-benda sakral dalam menyongsong hari Nyepi, merupakan salah satu upacara adat di Bali yang mampu memikat turis domestik ataupun asing untuk berdatangan ke Bali. Pariwisata Bali memang selalu menarik. Pesona alam serta keunikan kultur dan budaya masyarakat Bali menyebabkan pulau ini dikenal sebagai Pulau Dewata. Pesona ini mampu membuai seantero dunia untuk datang mengunjungi Pulau Dewata ini. Bali begitu terkenal, melebihi Indonesia sendiri. Bahkan, tidak semua orang asing tahu bahwa Bali merupakan bagian dari Indonesia.
Bagi Bali, pariwisata merupakan tumpuan utama pertumbuhan ekonomi. Kontribusi yang diberikan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, yang merupakan main dari sektor pariwisata, terhadap PDRB propinsi Bali mencapai 31,98%. Namun demikian, bukan berarti sektor pariwisata ini merupakan satu-satunya kontributor utama pertumbuhan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Pola konsumsi masyarakat Bali sendiri tampaknya memberikan andil yang cukup besar.
Di sektor pariwisata, kedatangan wisatawan asing merupakan berkah bagi masyarakat Bali dan masyarakat pendatang yang bergerak di Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Akibatnya banyak pendatang baik dari wilayah Bali sendiri maupun dari luar Bali yang berdatangan untuk mengadu nasib. Hasilnya, Bali pun semakin padat. Ruang gerak makin terbatas. Kepadatan penduduk, terutama terkonsentrasi di kawasan-kawasan wisata.
Hingga akhir tahun 2001, Denpasar yang memiliki luas wilayah 123,98 km2 jumlah penduduknya mencapai 418.791 jiwa. Berarti tingkat kepadatannya mencapai 3.378 jiwa/km2. Padahal idealnya per km2 dihuni 2.000 - 2.500 jiwa (Menurut Drs. Nyoman Aryana, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar, dikutip dari hasil wawancara dengan majalah Sarad). Bayangkan betapa sumpeknya. Sementara kepadatan Bali sendiri pada tahun yang sama mencapai 541 jiwa per km2.
Pertumbuhan penduduk Bali yang mencapai 1,31 persen dalam dasawarsa terakhir serta kualitas pendidikan dan lapangan usaha penduduk merupakan indikator demografi yang baik untuk mengukur seberapa besar potential market Bali untuk memasarkan berbagai macam produk food dan non food serta services.
Hal ini tentu saja tidak cukup tanpa ditunjang informasi yang memadai tentang gaya hidup kelas menengah atas Bali. Kelas menengah atas Bali cukup adaptable terhadap inovasi produk, teknologi dan layanan baru (barang maupun jasa). Gaya hidup kelas menengah atas patut dicermati mengingat kelas inilah yang purchasing power-nya dapat diandalkan dalam menyerap produk barang ataupun jasa. Penggalian gaya hidup kelas menengah atas merupakan hal yang cukup penting untuk mengukur potential addressable market Bali untuk tiap jenis barang dan jasa.
Dilihat dari tingkat konsumsi rumah tangga penduduk, maka tingkat konsumsi masyarakat relatif tinggi (kurang lebih 4 triliun rupiah pada tahun 2001) dengan tingkat pertumbuhan mencapai 3,06 persen pada tahun 2001. Namun, konsumsi rumah tangga ini masih sangat dipengaruhi oleh adanya hari – hari besar keagamaan dan bulan – bulan ketika “musim panen” wisman tiba.
Hasil riset yang dilakukan Enciety Business Consult atas distribusi pengeluaran masyarakat Bali menunjukan bahwa gaya hidup masyarakat Bali merupakan perpaduan antara gaya hidup Barat dan Timur.
Ada fakta yang cukup menarik mengenai hasil riset dimana pengeluaran rata-rata masyarakat Bali untuk membayar tagihan kartu kredit mereka menempati urutan kedua setelah pengeluaran untuk pemenuhan kebutuhan pokok makanan dan minuman. Mereka biasa menggunakan layanan perbankan ini untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pengeluaran lain yang cukup besar adalah pengeluaran untuk komunikasi. Pengeluaran rata-rata untuk komunikasi via telepon rumah setiap bulan mencapai Rp 415.000,- sedangkan pengeluaran rata-rata untuk telepon seluler juga cukup besar rata-rata Rp 325.000 per bulan. Pengeluaran untuk pakaian mencapai hampir 11% dan pengeluaran untuk rekreasi/ traveling mencapai lebih dari 5% dari total pengeluaran yang dilakukan masyarakat Bali. (lihat grafik)
Meski hasil riset menunjukkan bahwa rekreasi/ traveling ini merupakan aktivitas bersama yang paling sering dilakukan bersama anggota keluarga, pengeluaran untuk aktivitas ini tidak terlalu besar mengingat sebagian besar tempat hiburan favorit mereka berada di Bali sendiri, sehingga mereka hanya perlu mengeluarkan biaya transport tanpa harus mengeluarkan biaya untuk menginap. Hanya sesekali saja mereka ke luar kota atau keluar negeri baik untuk kepentingan rekreasi, bisnis maupun keluarga.
Pola distribusi pengeluaran masyarakat Bali ini tampaknya tidak lepas dari cukup gencarnya informasi yang diterima masyarakat Bali baik dari media cetak, audio visual ataupun internet.
Hasil riset yang dilakukan Enciety Business Consult terhadap masyarakat Bali menunjukkan bahwa mereka sudah sedemikian familiar dengan teknologi informasi. Internet bukan barang baru bagi mereka. Sekitar 20 % responden memiliki jaringan internet pribadi dan hampir 50% responden biasa bekerja dengan komputer dan memiliki perangkat elektronik ini di rumah mereka.
Terlepas dari itu semua, mampukah masyarakat Bali tetap menjaga agar potensi wisata yang mereka miliki tetap terjaga serta merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi mereka? Optimisme dan kerja keras sangat diperlukan. Apalagi setelah adanya teror bom yang meledak di Pulau Dewata ini. Yang terpenting adalah kita mampu menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Bali merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk dikunjungi. Semoga.
Minggu, 17 April 2011
Sekilas Cianjur
Luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.138.465 jiwa.
Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 52,00 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 23,00 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,80 % disusul sektor perdagangan sekitar 24,62%.
Sawah nan subur : Sebagai daerah agraris Kab.Cianjur
Merupakan penghasil padi berkualitas.
- Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
- Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
- Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
- Wilayah Utara
Meliputi 16 Kecamatan : Cianjur, Cilaku, Warungkondang,Gekbrong, Cibeber, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Cikalongkulon, Cugenang , Sukaresmi, Cipanas, Pacet dan Haurwangi.
- Wilayah Tengah
Meliputi 9 Kecamatan : Sukanagara, Takokak, Campaka, Campaka Mulya, Tanggeung, Pagelaran, Leles, Cijati dan Kadupandak.
- Wilayah Selatan
Meliputi 7 Kecamatan : Cibinong, Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun , Naringgul, Cikadu dan Pasirkuda.
Sebagai daerah agraris yang pembangunananya bertumpu pada sektor pertanian, kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Produksi padi pertahun sekitar 625.000 ton dan dari jumlah sebesar itu telah dikurangi kebutuhan konsumsi lokal dan benih, masih memperoleh surplus padi sekitar 40 %. Produksi pertanian padi terdapat hampir di seluruh wilayah Cianjur.
Kecuali di Kecamatan Pacet dan Sukanagara. Di kedua Kecamatan ini, didominasi oleh tanaman sayuran dan tanaman hias. Dari wilayah ini pula setiap hari belasan ton sayur mayur dipasok ke Jabotabek.
Panen Raya : Kerja keras yang tak pernah sia - sia.
Petani Bunga : Untuk menggunting dan merangkai setangkai
Bonsai pun diperlukan kelembutan Berkat ketekunan
tercipta Bonsai dengan harga yag relatif mahal.
Hamparan perkebuanan teh di daerah Sukanagara
Filosofi Cianjur
Cianjur memiliki filosofi yang sangat bagus, yakni ngaos-mamaos dan maenpo yang mengingatkan tentang 3 (tiga) aspek keparipurnaan hidup. Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan ke beragamaan. Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur ada dari ketiadan yakni sekitar tahun 1677 dimana tatar Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai. Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862.
Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaanNya. Sedangkan Maen Po adalah seni diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maen po ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).
Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan didalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.
Sedangkan visi pembangunan Kabupaten Cianjur untuk kurun waktu 5 tahun dari tahun 2006 sampai 2011 adalah Terwujudnya Kabupaten Cianjur lebih cerdas, sehat, sejahtera dan berakhlaqul karimah.